Inilah Mawar Antariksa dari NASA

Teleskop NASA memotret sebuah awan antariksa yang dipenuhi bintang-bintang baru yang ditaburi debu-debu ruang angkasa. Citra inframerah ini berasal dari kumpulan bintang baru yang dilabel Berkeley 59.

Tiap bintangnya "baru" beberapa juta tahun dan karena warna-warni merah dan hijaunya, para ilmuwan NASA menyamakannya dengan sebuah mawar kosmis.

Citra ini diambil oleh perangkat baru NASA, yaitu Penjelajah Survei Inframerah Berlingkup Lebar atau Wide-field Infrared Survey Explorer (WISE). Pengamat antariksa ini bernilai 320 juta dollar AS dan dibangun untuk memetakan seluruh langit dengan mendetail. Teleskop ini juga telah memotret asteroid gelap dan komet yang sebelumnya susah ditangkap citranya.

Teleskop WISE milik NASA diperkirakan bisa menyelesaikan pemetaan langitnya dalam enam bulan lagi.

Kembali pada mawar kosmis itu, cahaya merah di tengahnya adalah akibat panas yang dipancarkan oleh bintang-bintang dalam awan itu. Daerah hijau zamrud di pinggirannya adalah molekul-molekul polycyclic aromatic hydrocarbon yang bisa ditemukan juga di Bumi, yaitu dari hasil pembakaran, contohnya dari pipa knalpot mobil atau bahkan di dasar panggangan barbeque.

Earth Hour Jakarta 2010

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus mengajak seluruh stakeholder, pengelola gedung, pengusaha, dan masyarakat Jakarta untuk turut berpartisipasi dalam aksi global Earth Hour Jakarta 2010. Yakni melalui gerakan memadamkan lampu selama satu jam pada pukul 20.30-21.30 pada hari Sabtu, 27 Maret 2010. Tahun ini ditargetkan 400 gedung akan turut memadamkan lampu secara serentak di ibu kota. Dari aksi ini diharapkan dapat menghemat 10 persen konsumsi energi di Jakarta.

Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan Earth Hour tahun 2009 yang mendapatkan respon cukup baik dari warga Jakarta dan stakeholder. Sebanyak 200 gedung mengikuti himbauan gubernur DKI untuk mematikan lampu selama satu jam pada 28 Maret 2009. Langkah ini memberikan penghematan listrik sebanyak 50 MW.

“Saya berterima kasih karena respon cukup baik tahun lalu. Saya harap tahun ini paling sedikit 400 gedung mempunyai kesadaran untuk mengurangi karbon dioksida di Jakarta,” kata Fauzi Bowo, usai pengambilan gambar iklan tentang aksi global Earth Hour pemadaman lampu selama satu jam di Taman Suropati, Jakarta, Jumat (19/3).

Namun untuk gedung-gedung pelayanan publik yang memerlukan layanan gawat darurat atau emergency, seperti rumah sakit dan puskesmas tidak akan diwajibkan mengikuti aksi ini. Sebab ia tidak ingin pelayanan gawat darurat di rumah sakit dan puskesmas menjadi terganggu.

Agar gaung aksi ini tidak hanya dilaksanakan di Jakarta, maka gubernur selaku Ketua Asosiasi Pemerintah Provinsi Seluruh Indonesia (APPSI), secara resmi telah mengirimkan surat imbauan kepada gubernur di 33 Provinsi dan para walikota untuk melaksanakan hal yang sama. Sehingga diharapkan kota-kota lain di Indonesia, turut melakukan gerakan Earth Hour ini. Bahkan jika memungkinkan, daerah bisa menjadi sentral pelaksanaan pemadaman lampu.

“Tahun depan mungkin bisa di Surabaya, Medan, atau kota-kota besar lainnya. Karena memang konsumsi energi yang cukup besar di daerah urban,” ujarnya. Selain lampu lima ikon yang akan dipadamkan, sejumlah penerang jalan umum juga akan dimatikan.

Dengan adanya kesadaran tersebut, ia berharap tidak hanya pada 27 Maret 2010 terjadi penghematan energi secara serentak, melainkan dapat menimbulkan kesadaran hemat energi di waktu-waktu yang akan datang. Sebab jika bisa mengurangi 10 persen konsumsi energi di Jakarta, maka sama dengan mengurangi komsumsi listrik sebanyak 300 MW atau sama dengan mengurangi 260 ton CO2 dan menghemat Rp 210 juta untuk pengeluaran listrik.

Sumber : BeritaJakarta.com

Dampak badai matahari

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) memperkirakan puncak aktivitas matahari disertai badai matahari akan terjadi antara 2012 hingga 2015. Badai matahari ini tidak akan langsung menghancurkan peradaban di bumi, tapi akan berpengaruh pada sistem berteknologi tinggi seperti satelit dan komunikasi radio.

Demikian yang terungkap dalam acara sosialisasi pengaruh cuaca antariksa terhadap perubahan iklim di bumi yang digelar Lapan di Kampus Universitas Udayana, Denpasar, Bali, Rabu (10/3). Menurut peneliti matahari dari Lapan Clara Yono Yatini, sejak dulu matahari memiliki siklus dan tidak diam. Matahari mengalami ledakan-ledakan yang bisa sampai ke bumi.

Selain itu matahari juga memiliki berbagai aktivitas seperti medan magnet, bintik matahari, ledakan matahari, lontaran massa korona, hingga partikel energetik. Pada puncak siklusnya, aktivitas matahari akan sangat tinggi sehingga menyebabkan terjadinya badai matahari.

Hingga saat ini waktu pasti terjadinya badai matahari belum bisa diprediksi secara tepat. Namun, terkait badai matahari ini masyarakat pengguna peralatan berteknologi tinggi diminta untuk mulai mengantisipasi dampak buruk serangan badai matahari ke planet bumi.

Selain berdampak terhadap sistem teknologi tinggi, meningkatnya aktivitas matahari juga juga akan berdampak terhadap perubahan iklim di bumi. Dampak ekstrem peningkatan aktivitas matahari di bumi juga dapat menyebabkan kemarau panjang.

Sumber : liputan6.com

Youtube untuk tuna rungu

Layanan video internet yang telah mendunia, YouTube, menginginkan videonya juga dapat dinikmati oleh segala kalangan, termasuk kaum tunarungu. Oleh karena itu, YouTube membuat auto-caption, yaitu dengan memunculkan subtitle (terjemahan) agar penyandang tunarungu dapat memahami isi videonya, deperti dilansir Xinhuanet, Jumat (5/3). Sayangnya, hingga saat ini caption hanya tersedia pada sejumlah kecil video.

Awalnya fitur ini hanya akan tersedia untuk konten bahasa Inggris. Namun, Youtube berencana untuk mengembangkan fitur itu ke dalam beberapa bahasa lain pada bulan-bulan mendatang. November lalu, YouTube telah menerapkan auto-caption ke beberapa mitra seperti pada Universitas California, Universitas Berkeley, Universitas Yale, dan National Geographic.

Tim proyek ini menekankan, bagaimanapun, produk ini tidak sempurna. Meskipun demikian, rencana YouTube itu telah menuai sambutan hangat dari para penyandang tunarungu.

Penyedia video tersebut, kini mampu menerapkan video pada mesin penyalin. Untuk video yang belum disalin, pengguna dapat meminta sendiri dengan menempatkannya di sebuah antrian salinan. Proses itu dapat berlangsung di mana saja, mulai dari satu hingga 24 jam. Sementara Google mencoba merealisasikanya secepat mungkin.

Sumber : liputan6.com